Pengertian Pertanyaan

Pertanyaan adalah pernyataan seseorang yang ditujukan kepada orang lainnya serta mengharapkan untuk dijawab. Kompetensi professional seorang guru perlu dilengkapi dengan keterampilan bertanya, karena proses belajar mengajar merupakan interaksi edukatif yang didalamnya perlu adanya dialog atau komunikasi antara guru dan siswa. Sedangkan dalam proses berkomunikasi diperlukan danya keterlibatan intelektual siswa yang dikembangkan dengan berbagai pertanyaan yang diajukan guru.

2.      Tujuan Atau Fungsi Pertanyaan

Tujuan utama atau fungsi utama pertanyaan adalah sebagai berikut:

  • Meningkatkan partisifasi siswa dalam proses belajar mengajar
  • Meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang ingin dibahas
  • Meminta siswa berfikir dan mengembangkan pola fikirnya
  • Membimbing dan menuntun proses berfikir siswa
  • Memusatkan perhatian siswa terhadap konsep yang sedangdibicarakan

Sedangkan tujuan khusus atau fungsi khusus pertanyaan adalah:               

  • Memulai pelajaran
  • Menciptakan kondisi belajar
  • Memberikan motivasi
  • Mengarahkan pelajaran
  • Mendiagnosa
  • Melihat proses
  • Mengundang siswa untuk bertanya
  • Menilai guru
  • Mengevaluasi siswa
  • Memulai siswa untuk berdiskusi
  • Menegur siswa yang mengganggu kegiatan belajar mengajar

3.      Pentingnya Bertanya Dalam Belajar Mengajar

Berikut pentingnya bertanya dalam kegiatan belajar mengajar menurut pendapat para ahli:

  • Jantung strategi belajar yang efektif terletak pada pertanyaan yang diajukan guru (Fraengkel)
  • Dari sekian banyak metode pengajaran, yang paling banyak dipakai adalah bertanya ( bank)
  • Bertanya adalah salah satu teknik yang paling tua dan paling baik (Clark)
  • Mengajar itu adalah bertanya (Dewey)
  • Pertanyaan adalah unsur utama dalam strategi pengajaran, merupakan kunci permainan bahasa dalam pengajaran (Hyman)

Alasan kognitif lain bertanya adalah untuk merangsang ingatan memperdalam pengertian, mengembangkan imajinasi dan menggalakkan penyelesaikan masalah.

4.      Ragam Pertanyaan

Secara umum isi pertanyaan-pertanyaan dapat dikatagorikan sebagai konseptual, empiris dan terkait nilai. Pertanyaan-pertanyaan konseptual berkenaan dengan gagasan, definisi dan penalaran. Pertanyaan-pertanyaan empiris menuntut jawaban yang didasarkanpada fakta atau pada temuan experimental. Pertanyaan nilai berkenaan dengan manfaat dan kebaikan yang dikaitkan dengan isu moral dan lingkungan.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep. (http://smacepiring.wordpress.com). Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman.(http://www.sribd.com). Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.

Contoh pendekatan konsep adalah sebagai berikut :                               Dalam suatu pembelajaran guru akan mengajarkan materi tentang “ persamaan lingkaran yang berpusat di O(0,0) “. Pada awal pembelajaran guru meemberikan konsep dasar tentang rumus persamaan lingkaran yang berpusat di O(0,0) yaitu x² + y² = r². Siswa tidak diberikan penjelasan atau proses perolehan rumus tersebut. Guru langsung memberikan konsep dasarnya saja.

Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. (http://maistrofisika.blogspot.com). Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses.

Pendekatan proses penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik.

1

 

Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan  dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya. Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. (http://smacepiring.wordpress.com/).

Contoh Pendekatan Proses adalah sebagai berikut:

Dalam suatu pembelajaran guru akan mengajarkan materi tentang “ Teorema Phytagoras”. Pada awal pembelajaran guru memberikan rumus Teorema Phytagoras yaitu a² + b² = c². Kemudian siswa diminta untuk menemukan proses perolehan rumus tersebut.

Bukti:

A     a          P        b              B

                            b        c                             c      a

                            Q                                              S

                            a            c                     c          b

                               D       b              R       a      C

                        L      ABCD = L      PQRS + 4 x          

                        ( a + b )² = c² + 4 x  ab

                        a² + 2ab + b² = c² + 2ab

                        a² + b² = c² (Terbukti).

Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus.

Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum dan diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum ke dalam keadaan khusus. (http://maistrofisika.blogspot.com).

Contoh pendekatan deduktif adalah sebagai berikut:

Seorang guru memberikan materi tentang volume balok kepada siswa. Pada awal pembelajaran guru memberikan definisi dan konsep mengenai balok dan rumus volume balok. Kemudian guru menerapkan rumus volume tersebut pada beberapa contoh soal. Selanjutnya guru memberikan beberapa tugas kepada siswa yang sesuai contoh yang telah diberikan. Tugas ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa mengenai materi yang telah disampaikan.

Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus  menuju keadaan umum. Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati terhadap hal-hal khusus dan menginterpretasikannya, menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing memahami konsep, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur berdasar pengamatan siswa sendiri.

Contoh pendekatan induktif adalah sebagai berikut :

Seorang guru memberikan materi mengenai bangun datar persegi panjang. Diawal pembelajaran guru menyuruh siswa untuk membuat persegi panjang dengan menggunakan alat peraga berupa kertas. Siswa dituntut untuk membentuk kertas tersebut menjadi sebuah bangun persegi panjang. Siswa diperintah untuk berdiskusi tentang sifat – sifat bangun persegi panjang. Kemudian pada akhir pembelajaran siswa dan guru sama – sama saling menyimpulkan mengenai sifat – sifat bangun persegi panjang.        

Hakikat Matematika

Matematika secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan, dan ruang; tak lebih resmi, seorang mungkin mengatakan adalah penelitian bilangan dan angka. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam filosofi matematika.(www.wikipedia.org) Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. (Hasan Alwi, 2002:723). Menurut Hasan Alwi juga, bahwa Matematika memiliki kepanjangan dalam 2 versi. Pertama, Matematika merupakan kepanjangan dari MAkin TEkun MAkin TIdak KAbur, dan kedua adalah MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan. Dua kepanjangan tersebut tentunya sangat berlawanan.

Untuk kepanjangan pertama mungkin banyak kalangan yang mau menerima dan menyatakan setuju. Karena siapa saja yang dalam kesehariannya rajin dan tekun dalam belajar matematika baik itu mengerjakan soal-soal latihan, memahami konsep hingga aplikasinya maka dipastikan mereka akan mampu memahami materi secara tuntas. Karena hal tersebut maka semuanya akan menjadi jelas dan tidak kabur. Berbeda dengan kepanjangan versi kedua, tidak dapat dibayangkan jika kita semakin tekun dan ulet belajar matematika malah menjadi tidak karuan alias amburadul. Mungkin kondisi ini lebih cocok jika diterapkan kepada siswa yang kurang berminat dalam belajar matematika (bagi siswa yang memiliki keunggulan kecerdasan di bidang lainnya) sehingga dipaksa dengan model apapun kiranya agak sulit untuk dapat memahami materi matematika secara tuntas dan lebih baik mempelajari bidang ilmu lain yang dianggap lebih cocok untuk dirinya dan lebih mudah dalam pemahamannya.

Berpijak pada uraian tersebut, menurut Sumardyono (2004:28) secara umum definisi matematika dapat dideskripsikan sebagai berikut, di antaranya:

1. Matematika sebagai struktur yang terorganisir.

Agak berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika merupakan suatu bangunan struktur yang terorganisir. Sebagai sebuah struktur, ia terdiri atas beberapa komponen, yang meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif, dan dalil/teorema (termasuk di dalamnya lemma (teorema pengantar/kecil) dan corolly/sifat).

2. Matematika sebagai alat (tool).

Matematika juga sering dipandang sebagai alat dalammencari solusi pelbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.

3. Matematika sebagai pola pikir deduktif.

Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif, artinya suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).

4. Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking).

Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar, paling tidak karena beberapa hal, seperti matematika matematika memuat cara pembuktian yang sahih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran matematika yang sistematis.

5. Matematika sebagai bahasa artifisial.

Simbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam matematika. Bahasa matematika adalah bahasa simbol yang bersifat artifisial, yang baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.

6. Matematika sebagai seni yang kreatif.

Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni berpikir yang kreatif.

Ada yang berpendapat lain tentang matematika yakni pengetahuan mengenai kuantiti dan ruang, salah satu cabang dari sekian banyak cabang ilmu yang sistematis, teratur, dan eksak. Matematika adalah angka-angka dan perhitungan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Matematika menolong manusia menafsirkan secara eksak berbagai ide dan kesimpulan-kesimpulan. Matematika adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problem-problem numerik. Matematika membahas fakta-fakta dan hubungan-hubungannya, serta membahas problem ruang dan waktu. Matematika adalah queen of science (ratunya ilmu). (Sutrisman dan G. Tambunan, 1987:2-4)

Berdasarkan berbagai pendapat tentang definisi dan deskripsi matematika di atas, kiranya dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita seorang Muslim – terutama bagi pihak yang masih merasa memiliki anggapan “sempit” mengenai matematika. Melihat beragamnya pendapat banyak tokoh di atas tentang matematika, benar-benar menunjukkan begitu luasnya objek kajian dalam matematika.

Matematika selalu memiliki hubungan dengan disiplin ilmu yang lain untuk pengembangan keilmuan, terutama di bidang sains dan teknologi. Bagi guru, dengan memahami hakikat definisi dan deskripsi matematika –sebagaimana tersebut di atas- tentunya memiliki kontribusi yang besar untuk menyelenggarakan proses pembelajaran matematika secara lebih bermakna. Diharapkan, matematika, tidak lagi dipandang secara parsial oleh siswa, guru, masyarakat, atau pihak lain. Melainkan mereka dapat memandang matematika secara “jujur” (baca: utuh) yang pada akhirnya dapat memacu dan berpartisipasi untuk membangun peradaban dunia demi kemajuan sains dan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi umat manusia. Lebih-lebih membawa dampak positif bagi umat Muslim, sehingga dapat merasakan kembali bagaimana peradaban Islam dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin. [ahf]

Dalam buku Model Pembelajaran yang disusun oleh Prof. Dr. Hamzah B. Uno, M.Pd dijelaskan bahwa hakikat belajar matematika adalah suatu aktivitas mental untuk memahami arti dan hubungan-hubungan serta simbol-simbol, kemudian diterapkannya pada situasi nyata. Schoenfeld (1985) mendefinisikan bahwa belajar matematika berkaitan dengan apa dan bagaimana menggunakannya dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah. Matematika melibatkan pengamatan, penyelidikan, dan keterkaitannnya dengan fenomena fisik dan sosial. Berkaitan dengan hal ini, maka belajar matematika merupakan suatu kegiatan yang berkenaan dengan penyeleksian himpunan-himpunan dari unsur matematika yang sederhana dan merupakan himpunan-himpunan baru, yang selanjutnya membentuk himpunan-himpunan baru yang lebih rumit. Demikian seterusnya, sehingga dalam belajara matematika harus dilakukan secara hierarkis. Dengan kata lain, belajar matematika pada tahap yang lebih tinggi, harus didasarkan pada tahap belajar yang lebih rendah (Robert M. Gagne).

Selanjutnya Gagne  mekemukakan delapan tipe belajar yang diakukan secara prosedural atau hierarki dalam belajar matematika. Kedelapan tipe belajar tersebut, yakni

  1. Belajar sinyal (signal learning).
  2. Belajar stiulus respons (stimulus response learning).
  3. Belajar merangkai tingkah laku (behavior chaining learning).
  4. Belajar asosiasi verbal (verbal chaining learning).
  5. Belajar diskriminasi (discrimination learning).
  6. Bejalar konsep (concept learning).
  7. Belajar aturan (rule learning).
  8. Belajar memecahkan masalah (problem solving learning).

Menurut Piaget perkembangan intelektual, terjadi secara pasti dan spontan. Sedangkan anak yang belajar matematika sifatnya fleksibel, tidak tergantung pada umurnya. Dapat dipahami bahwa Piaget tidak sependapat jika belajar matematika dipandang sebagai suatu proses yang terbatas, yaitu lebih dipacu kearah spontanitas terbatas untuk masalah tunggal (teori stimulus respons). Ini disebabkan adanya struktur kognitif anak yang merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan dalam belajar matematika.

Contekstual Teaching and Learning

Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan Stimulus dan Respons.Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak, pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang.

 

Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang ada dibelakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian?Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya.Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku.
Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam konteks CTL menurut Sanjaya (2005:114) antara lain:

  1. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengonstruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Oleh karena itulah, semakin banyak pengalaman maka akan semakin banyak pula pengetahuan yang mereka peroleh.
  2. Belajar bukan sekadar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas. Pengetahuan itu pada dasarnya merupakan organisasi dari semua yang dialami, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki akan berpengaruh terhadap pola-pola perilaku manusia, seperti pola berpikir, pola bertindak, kemampuan memecahkan persoalan termasuk penampilan atau performance seseorang. Semakin pengetahuan seseorang luas dan mendalam, maka akan semakin efektif dalam berpikir.
  3. Belajar adalah proses pemecahan masalah, sebab dengan memecahkan masalah anak akan berkembang secara utuh yang bukan hanya perkembangan intektual akan tetapi juga mental dan emosi. Belajar secara kontekstual adalah belajar bagaimana anak menghadapi persoalan.
  4. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.
  5. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan yang memiliki makna untuk kehidupan anak (Real World Learning)

Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL seperti dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. (2005:110), sebagai berikut:

  1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
  2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
  5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi.

Selanjutnya Sanjaya (2005:115) memberikan penjelasan perbedaan CTL dengan pembelajaran konvensional, antara lain:

  1. CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa perperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
  2. Dalam pembelajaran CTL siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima, dan memberi. Sedangkan, dalam pembelajaran konvensional siswa lebih bnayak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
  3. Dalam CTL pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat teoretis dan abstrak.
  4. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.
  5. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah nilai dan angka.
  6. Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman, atau sakadar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
  7. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
  8. Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing; sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
  9. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
  10. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.

Pengetahuan itu diperoleh anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain temasuk guru, akan tetapi dari proses penemukan dan mengontruksinya sendiri, maka guru harus menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru perlu memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah organisme aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya sendiri.Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberi kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan mereka.

  1. Komponen dalam CTL

CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 (tujuh) komponen.Komponen-komponen ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Komponen tersebut antara lain konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian nyata (authentic assessment).

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis akan tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengonstruksinya. Piaget menyatakan hakikat pengetahuan sebagai berikut:

  1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, akan tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
  2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
  3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsep itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Pembelajaran melalui CTL pada dasarnya mendorong agar siswa dapat mengonstruksi pengetahuan melalui proses pengamatan dan pengalaman.

Komponen kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intektual, mental emosional maupun pribadinya.Apakah inkuiri hanya bias dilakukan untuk mata pelajaran tertentu saja? Tentu tidak. Berbagi topik dalam setiap mata pelajaran dapat dilakukan melalui proses inkuiri.

Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah yaitu: merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulakn data, menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan dan membuat kesimpulan.
Penerapan komponen ini dalam pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah.Apabila masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk mengui hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan.

Ketiga, bertanya (questioning).Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Oleh sebab itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:

  1. Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran
  2. Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar
  3. Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu
  4. Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan dan
  5. Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.

Keempat, masyarakat belajar (learning community). Dalam CTL, penerapan komponen masyarakat belajar dapat dialukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat belajar didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang memiliki kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.

Kelima, pemodelan (modeling).Maksudnya adalah, proses pembelajaran dengan menggunakan sesuatu contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasionalkan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi contoh bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi memberikan contoh bagaimana cara mengggunakan thermometer dan lain sebagainya.Proses modelling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modelling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang memungkinkan terjadinya verbalisme.

Keenam, refleksi (reflection) adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya.
Dalam setiap proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk ‘’merenung’’ atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkanlah secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.

Ketujuh, penilaian nyata (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.Penilaian autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan kepada hasil belajar.

  1. Karakteristik CTL

Menurut Dr. Hanafiah, M. M. Pd. Dan Drs. Cucu Suhana, M. M. Pd. dalam buku Konsep Strategi Pembelajaran menyebutkan karakteristik Contextual Teaching and learning adalah sebagai berikut :

  1. Kerja sama antar peserta didik dan guru (cooperative),
  2. Saling membantu antarpeserta didik dan guru,
  3. Belajar dengan bergairah,
  4. Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual,
  5. Menggunakan multi media dan sumber belajar,
  6. Cara belajar siswa aktif,
  7. Sharing bersama teman,
  8. Siswa kritis dan guru kreatif,
  9. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa,
  10. Laporan siswa bukan hanya buku rapor, tetapi jugahasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.

 

  1. Tiga prinsip Ilmiah dalam CTL

Elaine B. Johnson, Ph. D. dalam buku Contextual teaching and learning menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan dan bermakna, menerangkan tiga prinsip ilmiah dalam CTL sebagai berikut :

  1. Prinsip Kesaling-bergantungan

Dengan bekerja sama, para siswa terbantu dalam menemukan persoalan, merancang rencana dab mencari pemecahan masalah. Bekerja sama akan membantu mereka mengetahui bahwa saling mendengarkan akan menuntun pada keberhasilan. Prinsip kesaling bergantungan ini menuntun pada penciptaan hubungan yang bermakna.

  1. Prinsip Diferensiasi

Seandainya diferensiasi menghilang maka pikiran dan perasaan kita akan sama. Misalnya,musikakan menjadi satu nada, para seniman akan melukis subjek yang sama, para penyair akan menggunakangambaran yang sama. Kesamaan akan membuat hidup menjadi datar dan gersang.

  1. 3.      Prinsip Pengaturan-diri

“Konteks” berasal dari kata latincontexere yang berarti “menjalin bersama”. Kata “konteks” merujuk pada “keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan” yang berhubungan dengan diri yang terjalin bersamanya (webster’s new World Dictionary, 1968).

 

 

 

  1. Penerapan CTL Pada Suatu Pokok Bahasan

Perbandingan (materi kelas VII semester ganjil)

Standar Kompetensi :

3. Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linier satu  variabel, danperbandingan dalam pemecahan.

Kompetensi Dasar :

3.4 Menggunakan perbandingan untuk pemecahanmasalah.

Indikator   :

3.4.1. Menjelaskan pengertian skala sebagai suatu perbandingan.  

 

Sekilas tentang materi Perbandingan (BSE Antik Wintarti 2008).

  • Peta

Dalam pelajaran IPS (geografi) sering kamudiminta untuk menentukan letak suatu pulau,sungai, kota dan gunung pada suatu wilayah tertentu. Kalian tidak mungkin melihatkeseluruhan dari hal tersebut.Untuk itu dibuatlah suatu gambar (atlas/peta) yang mewakili keadaan sebenarnya.Gambar itu dibuat sesuai dengan keadaan sebenarnya, dengan perbandingan (skala) tertentu. Coba perhatikan seorang pemborong yang akan membangun gedung sekolah, tentu pemborong tersebut membuat dulu gambar berskala yang disebut maket.Gedung dan maketnya mempunyai bentuk yang sama tetapi ukurannya berbeda.

Kamu juga akan melakukan hal yang sama jika membuat denah ruangan yang ada di sekolahmu. Ruangan dan denah yang kamubuat mempunyai bentuk yang sama tetapi ukurannya berbeda.Maket dan denah dibuat sesuai dengan keadaan sebenarnyadengan perbandingan (skala) tertentu.Gambar pada halaman berikut merupakan peta propinsiKalimantan Timur dibuat dengan skala 1 : 6.000.000.Artinya 1cm pada gambar mewakili 6.000.000 cm pada keadaansebenarnya.Dalam hal ini skala adalah perbandingan antara jarakpada peta dengan jarak sebenarnya, atau 6.000.000 cm padakeadaan sebenarnya digambar dalam peta 1 cm.

Jarak pada peta

 

 

Jarak sebenarnya

Skala =

 

 

Contoh :

Sekarang perhatikan peta propinsi Kalimantan Timur pada peta.Berapakah jarak antara kota Samarinda dan Balikpapan ?

Jawab

Pada peta, ukurlah dengan menggunakan penggaris, jarak antara kota Balikpapan dan Samarinda.

diperoleh :

Jarak dalam peta = 2,5 cm

Skala 1 : 6.000.000, itu artinya 1 cm di peta mewakili 6.000.000cm pada keadaan aslinya.

Jarak sebenarnya = 2,5 x 6.000.000 = 15.000.000

Jadi jarak Balikpapan dengan Samarinda adalah

15.000.000 cm = 150 km (ingat 1 km = 100.000 cm).

 

Dengan bantuan alat peraga yaitu sebuah peta/globe dan penggaris/meteran maka siswa akan lebih cepat memahami dan menerapkan pokok bahasan tersebut sehingga hal ini akan sangat membantu guru dalam menyampaikan pokok bahasan tersebut.

 

  1. Sebuah Permasalahan yang Penerapannya Sesuai Dengan CTL

Ukuran Foto I adalah 4 x 6 dan Foto II adalah

Foto I ukuran 4 x 6

2 x 3. Berapakah perbandingan ukuran Foto

II ke Foto I?

 

Foto II ukuran 2 x 3

 

 

 

  1. Kelebihan dan Kelemahan CTL

Menurut hasili penelitian yang dilakukan oleh Tri Murtono(Skripsi) dalam penerapan CTL terdapat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dan kekurangannya CTL sebagai berikut :

  1. Kelebihan CTL
    1. CTLMenjadikan adanya kerja sama antar peserta didik.
    2. Menjadikan peserta didik saling menunjang dalam menyelesaikan persoalan yang ada.
    3. Menjadikan suasana kelas lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
    4. Menjadikan peserta didik menjadi lebih aktif di dalam kelas. 
    5. Menjadikan siswa lebih kritis dalam menyelesaikan masalah yang ada. 
    6. Kelemahan CTL
      1. Jika model pemebelajaran CTL tidak dipadukan dengan modelpembelajaran lain maka akan sulit membentuk masyarakat belajaryang baik.
      2. Masih sulitnya peserta didik mengkonstruksi persoalan yang diberikan oleh guru yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.
      3. Jika guru kurang kreatif maka model pemebelajarann CTL ini akansulit dilakukan oleh guru sehingga rasa ingin tahu peserta didikkurang.
      4. Masih kurangnya peserta didik untuk melakukan berbagi pengalamandalam memecahkan persoalan yang dihadapi.
      5. Masih sulitnya membuat suasana kelas menjadi menyenangkan karena pembelajaran masih dibatasi oleh dinding dan lorong.

Salah satu metode mengajar adalah metode laboratorium. Dalam kegiatan pembelajaran, dimana telah tersedia fasilitas dan sumber belajar yang menarik dan cukup untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Kondisi yang semacam itu memungkinkan digunakannya metode laboratorium dalam pembelajaran. Karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Termasuk matematika yang pada hakikatnya merupakan suatu ilmu yang di adakan atas akal (rasio) yang berhubungan dengan benda-benda / objek pikiran yang abstrak. Begitu juga dalam cara mengajar guru dikelas digunakan metode laboratorium.

A.       Pengertian Metode Laboratorium

Yang dimaksud metode laboratorium adalah salah satu cara mengajar guru, dimana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hal percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan dikelas dan di evaluasi oleh guru. Pembelajaran matematika dengan metode laboratorium berdasarkan ” Belajar ” dengan ” Berbuat ” dan berlanjut dari konkrit ke abstrak. Oleh karenanya tujuan pembelajaran dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotor dapat tercapai. Dengan metode ini dimaksudkan membimbing siswa untuk menemukan fakta-fakta dalam matematika dan mengaplikasikan pengetahuannya. Dalam hal tertentu metode ini merupakan perluasan dari metode induktif.

Pembelajaran dengan metode ini memeng lebih tepat jika dilaksanakan di laboratorium matematika (labmat) atau workshop matematika, tetapi dapat pula dilaksanakan diruang kelas. Adanya labmat atau workshop matematika sangat penting manfaatnya dan merupakan lingkungan yang baik bagi siswa untuk belajar meneliti, menemukan pola atau rumus, mengaplikasikan konsep atau melakukan permainan. Labmat dapat digunakan untuk menyimpan alat-alat pengajaran matematika baik yang berupa alat-alat permainan, bangun-bangun geometri, sampai alat audio visual maupun sebagai tempat praktikum komputer.

B.      Tujuan Penggunaan Metode Laboratorium

Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dengan eksperimen siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya. Metode ini juga memberikan pemahaman kepada siswa dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotor. Serta membimbing siswa untuk menemukan fakta-fakta dalam matematika serta mengaplikasikan pengetahuannya dalan kehidupan sehari-hari. Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awal kegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari.

C.       Kelebihan dan Kelemahan Metode Laboratorium

Pada dasarnya tidak ada metode mengajar yang paling sempurna, paling baik atau jelek. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing yang tentunya berbeda dengan metode lainnya.

Adapun kelebihan dari metode laboratorium antara lain :

1.      Anak didik dapat aktif mengambil bagian berbuat untuk diri sendiri. Ia tidak hanya melihat orang lain menyelesaikan suatu eksperimen, tetapi juga dengan berbuat sendiri ia memperoleh kepandaian-kepandaian yang diperlukan.

2.      Ia mendapat kesempatan yang sebesar-besarnya untuk melaksanakan langkah-langkah dalam cara-cara berpikir ilmiah. Ramalan / hipotesa dapat di uji kebenarannya dengan menyimpilkan data hasil percobaan kemudian ia menafsirkan dan membuat kesimpulan.

3.      Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, yang man itu sangat dikehendaki oleh kegiatan mengajar belajar yang modern, dimana siswa lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.

4.      Menarik dan menyenangkan bagi siswa kelas rendah

5.      prinsip psikologi terpenuhi

6.      Siswa dapat memperoleh fakta-fakta yang jelas

7.      memupuk percaya diri

8.      Memupuk keberanian untuk berbuat

9.      Memupuk kemampuan untuk menerapkan matematika dalam kehidupannya

Metode laboratorium juga memiliki kelemahan, di antaranya :

1.      Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak mendapatkan kesempatan untuk melakukan percobaan

2.      Jika percobaan memerlukan jangka waktu yang lama, ia harus menanti untuk melanjutkan pelajaran

3.      Kurangnya persiapan dan pengalaman anak didik akan menimbulkan kesulitan didalam melakukan percobaan

4.      hanya mampu memperkenalkan fakta-fakta kepada siswa tetapi tidak dapat kemampuan yang lebih tinggi

5.      Tidak semua topik dapat di ajarkan dengan metode ini

6.      Memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit

7.      Memerlukan perencanaan yang rumit dan matang dari guru yang akan mengajar

8.      Untuk pembelajaran matematika tidak dapat menghasilkan ketrampilan dan latihan berpikir yang benar

D.      Prosedur Pelaksanaan Metode Laboratorium

Prosedur-prosedur dalam metode laboratorium adalah :

1.      Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan percobaan, mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui percobaan

2.      Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang :

a)      Alat-alat serta bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan. Alat itu bisa berupa alat peraga yang digunakan dalam pengajaran.

Alat peraga pengajaran adalah alat-alat yang digunakan oleh guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pelajaran yang banyak menggunakan verbalisme tentu akan segera membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira atau senang karena meraka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya. Belajar akan lebih efektif jika dibantu alat peraga pengajaran dari pada siswa belajar tanpa dibantu alat peraga.

Dalam pemilihan alat peraga yang hendak digunakan oleh guru haruslah diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta individual dalam kelompok 
  • Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan 
  • Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu 
  • Penggunaan alat peraga harus disertai dengan kelanjutannya seperti diskusi, analisis dan evaluasi 
  • Sesuai dengan batas kemampuan biaya (M. Uzer, 1985 : 27). Sedangkan alat peraga banyak macam dan ragamnya, guru harus menyesuaikan dengan mata pelajaran dan pokok bahasan yang di ajarkan
  1. Metode Pembelajaran

Metode adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang difokuskan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode merupakan seperangkat penjelas dari suatu pendekatan.

Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:

  1. Ceramah

Ceramah merupakan suatu cara menyampaikan informasi dengan lesan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan.Metode ini merupakan metode belajar yang sering dipakai terutama untuk bidang studi non eksakta.

  1. Ekspositori

Merupakan metode yang berdasarkan pada terpusatnya interaksi kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pengajaran).Metode ini sama dengan metode ceramah karena terpusat pada murid yang sedang berinteraksi.

  1. Demonstrasi

Metode ini sejenis dengan metode ceramah dan metode ekspositori.Kegiatan belajar mengajar berpusat pada guru atau guru mendominasi kegiatan belajar mengajar.

  1. Diskusi

Diskusi adalah sebuah interaksikomunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar.

  1. Simulasi

Simulasi adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata beserta keadaan sekelilingnya.

  1. Laboratorium

Metode labratorium adalah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami objek langsunng matematika dengan jalan mengkaji, menganalisis, menemukan secara induktif melalui inkuari, menemukan serta mentes hipotesis, dan menarik keesimpulan dari benda-benda kongkrit atau model matematika yang dilakukannya di laboratorium.

  1. Kegiatan lapangan

Kegiatan atau kerja lapangan banyak kesamaannya dengan metode laboratorium namun oerbedaan menyangkut obyek dan tempatnya.Dalam metode kegiatan lapangan benda-bebda yang diteliti ada di luar, di lapangan terbuka.

  1. Brainstorming

Brainstorming adalah sebuah kreativitas kelompok teknik yang dirancang untuk menghasilkan sejumlah besar ide-ide untuk pemecahan masalah.

  1. Debat

Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.

  1. dan sebagainya.

Dapat pula dikatakan bahwa metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.

  1. Strategi Pembelajaran

Stategi adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. (Kemp Wina Senjaya, 2008).Strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.Dengan kata lain, strategi pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik. Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Pada dasarnya strategi pembelajaran masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil.

Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:exposition-discovery learning dan group-individual learning.Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

  1. Teknik Pembelajaran

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. . Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Teknik merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.Dalam satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran.

 

Posisi dari masing-masing istilah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.        Contoh Simulasi dalam Penerapan Strategi Pembelajaran Matematika
    1. Alat peraga :

Kerangka kubus dan balok yang terbuat dari sedotan.

  1. Materi ajar  : Bangun Ruang
  2. Kubus

1)      Kubus memiliki 6 sisi, 12 rusuk, dan 8 titik sudut.

2)      Suatu kubus memiliki 6 berbentuk persegi yang kongruen.

3)      Dua garis dalam suatu bangun ruang dikatakan sejajar, jika kedua garis itu tidak berpotongan dan terletak pada satu bidang.

4)      Diagonal bidang suatu kubus adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada setiap bidang kubus.

5)      Diagonal ruang suatu kubus adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam suatu ruang.

 

6)      Bidang diagonal suatu kubus adalah bidang yang dibatasi dua rusuk dan dua diagonal bidang suatu kubus.

7)      Jika panjang rusuk suatu kubus a maka jumlah panjang rusuknya = 12a.

8)      Luas permukaan kubus =

9)      Volume kubus =

 

Contoh Soal:

–          Diketahui sisi kubus dengan panjang 20cm. Hitunglah luas permukaan dan volume kubus tersebut!

Jawab:

Diketahui    : s=20cm

Ditanya       :        a. L permukaankubus?

b. V kubus?

Jawab          :     a. L permukaan kubus       =

= 6 x

= 6 x (20 x 20)

= 6 x 400

= 2400cm2

b. V kubus =

=

= 20 x 20 x 20

= 8000cm3

 

  1. Balok

1)      Balok memiliki 6 sisi, 12 rusuk, dan 8 titik sudut.

2)      Suatu balok memiliki 3 pasang sisi berbentuk persegi panjang yang setiap pasangnya kongruen.

3)      Dua garis dalam suatu bangun ruang dikatakan sejajar, jika kedua garis itu tidak berpotongan dan terletak pada satu bidang.

4)      Diagonal bidang suatu balok adalah ruas garis yang menhubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada setiap bidang balok.

5)      Diagonal ruang suatu balok adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam suatu ruang.

6)      Bidang diagonal suatu balok adalah bidang yang dibatasi dua rusuk dan dua diagonal bidang suatu balok.

7)      Jika sebuah balok berukuran panjang = p, lebar = l, dan tinggi = t , maka jumlah panjang rusuknya  = 4(p + l + t)

8)      Luas permukaan balok = 2{(p x l)+(l x t)+(p x t)}

9)      Volume balok = p x l x t

 

Contoh Soal:

–          Diketahui suatu balok mempunyai panjang 25cm, lebar 10cm, dan tinggi 10cm. Hitunglah luas permukaan dan volume balok tersebut!

Jawab :

Diket      : p = 25cm

 l = 10cm

 t = 10cm

Ditanya :a. L permukaan balok?

b. V balok?

Jawab    : a. L permukaan balok = 2{(p x l)+(l x t)+(p x t)}

= 2{25×10)+(10×10)+(25×10)}

= 2{250 + 100+ 250}

= 2{600}

= 1200cm2

b. V balok = p x l x t

= 25 x 10 x 10             

= 2500cm3

 

  1. Metode pembelajaran :
    1. Cooperative learning dengan model pembelajaran Jigsaw.
    2. Langkah-langkah pada model pembelajaran Jigsaw:

1)      Pendahuluan

a)        Apersepsi

Guru mengingatkan kembali mengenai bangun ruang.

b)        Motivasi

Guru memberi motivasi berupa penjelasan bahwa materi ini akan berguna dalam menyelesaikan masalah yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

2)      Kegiatan inti

a)      Dalam suatu kelas, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 2 siswa. Kelompok ini disebut kelompok asal.

b)      Setiap anggota kelompok diberi materi yang berbeda oleh guru dalam bentuk teks, serta setiap materi diberi satu alat peraga.

–       Anggota pertama mendapat materi 1

–       Anggota kedua mendapat materi 2

c)      Setiap anggota dari kelompok berbeda yang mendapat materi yang sama berkumpul menjadi satu kelompok untuk mendiskusikan mareri yang tellah diberikan. Kelompok tersebut disebut kelompok ahli atau asal.

d)     Setelah diskusi selesai, anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing. Kemudian menjelaskan kepada anggota dalam kelompok asalnya.

e)      Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya.

f)       Apabila hasil diskusi dirasa kurang maksimal oleh guru, maka guru menjelaskan kembali mengenai materi tersebut.

g)      Guru memberikan evaluasi kepada masing-masing individu atau kelompok tentang materi yang telah didiskusikan tadi. Kemudian yang mendapat skor tertinggi akan diberi penghargaan untuk menambah motivasi bagi siswa.

3)      Penutup

a)      Bersama-sama siswa dan guru membuat rangkuman dari materi yang telah dipelajari.

b)      Guru memberikan pekerjaan rumah (PR).